- Diposting oleh : operatorsahabat
- pada tanggal : 03.07
Malam itu, Madinah seperti diselimuti kabut kesedihan. Tahun Abu (Amul Ramadah) telah mengubah tanah yang subur menjadi gersang, dan tawa anak-anak menjadi rintihan kelaparan. Di tengah sunyinya malam, seorang pria bertubuh tegap dengan jubah sederhana melangkah membelah kegelapan. Ia adalah Umar bin Khattab, pemimpin tertinggi separuh dunia, yang tak bisa memejamkan mata selagi rakyatnya menderita.
Langkah Umar terhenti di pinggiran kota saat pendengarannya yang tajam menangkap suara yang menyayat hati: tangisan pilu seorang bocah perempuan.
Umar mendekati sebuah tenda kumuh. Di sana, seorang ibu tua tengah mengaduk panci di atas api yang meredup. Umar memberi salam dan bertanya lembut, "Mengapa anakmu menangis tiada henti, wahai Ibu?"
Tanpa menoleh, sang ibu menjawab dingin, "Dia lapar, Tuan. Sangat lapar."
Umar tertegun melihat kepulan asap dari panci itu. "Masakanmu harum, mengapa tak kunjung kau hidangkan?"
Sang ibu tertawa getir, lalu membuka tutup pancinya. Mata Umar terbelalak. Di dalam air yang mendidih itu, bukan gandum atau daging yang berputar, melainkan bongkahan batu hitam.
"Aku memasak batu ini hanya untuk membohonginya agar dia lelah menangis dan tertidur dalam harapannya," bisik sang ibu dengan suara bergetar. "Ketahuilah, ini semua karena kezaliman Umar! Dia tidur nyenyak di istananya, sementara kami mengunyah debu di sini. Biarlah Allah yang menjadi hakim antara aku dan Umar di akhirat kelak!"
Mendengar kutukan itu, jantung Umar bagai dihantam gada besi. Ajudannya, Aslam, hendak membentak karena sang ibu tak tahu ia sedang bicara dengan Sang Khalifah. Namun, Umar menahan tangan Aslam dengan gemetar. Air mata menyungai di pipi sang singa padang pasir.
Tanpa sepatah kata, Umar berbalik dan lari secepat kilat kembali ke baitul mal di Madinah. Ia menyambar satu karung gandum terbaik dan sejerigen minyak samin. Dengan napas tersengal, ia memanggul sendiri karung berat itu.
"Wahai Amirul Mukminin, biarkan aku yang memikulnya!" seru Aslam iba melihat pemimpinnya bermandi keringat.
Umar berbalik dengan tatapan tajam yang menghujam, "Aslam! Apakah kau mau memikul dosa-dosaku di Hari Pembalasan nanti? Apakah kau sanggup menanggung beban pundakku saat aku berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan nyawa anak ini?"
Aslam tertunduk layu. Umar terus berlari, menerjang dingin malam dengan beban gandum di punggungnya. Sesampainya di tenda, sang Khalifah sendiri yang berlutut di depan perapian. Ia meniup api hingga abunya mengotori janggutnya yang terhormat. Ia memasak gandum itu dengan tangannya yang biasa memegang pedang di medan perang.
Setelah matang, Umar menyuapi bocah-bocah itu hingga mereka tersenyum dan tertawa kembali. Hati Umar baru terasa tenang saat melihat perut mereka kenyang.
Keesokan harinya, saat sang ibu datang ke kantor kekhalifahan untuk menagih haknya, ia jatuh tersungkur lemas. Pria yang memasakkan makanan untuknya semalam adalah orang yang sama yang duduk di kursi pimpinan.
"Maafkan aku, wahai Khalifah! Aku telah menghujatmu!" ratap sang ibu ketakutan.
Umar justru berlutut di hadapan rakyatnya itu. Dengan suara parau, ia berkata, "Tidak, Ibu. Akulah yang harus memohon maaf padamu. Akulah yang berdosa karena kenyang saat engkau lapar. Ambillah bantuan ini, dan jangan pernah berhenti menegurku jika aku lalai. Karena di pundak ini, setiap helai rambut rakyatku adalah amanah yang sangat berat.
.png)